Si Kinestetik

Secara umum ada 3 jenis gaya belajar anak yaitu visual, auditorial dan kinestetik. Anak sulungku tipikal anak yang kinestik, gak bisa diam cenderung sangat aktif. Kalo merujuk ke ciri anak kinestetik ya itu dia banget lah. Suka menyentuh, merasakan dan memegang sesuatu adalah salah satunya. Dan jangan harap dia bisa duduk diam untuk waktu yang lama. Dia cuma bisa diam saat menonton acara atau video kesukaannya dan saat tidur 😆.

Di ruang tamu rumah kami yang mungil hanya ada sofa panjang ukuran 3 orang dan meja tamu di pinggir jendela. Sisanya adalah 2 kontainer mainan, tiang ring basket kecil, sepeda roda 3, otoped dan meja belajar kecil. Tidak ada perabotan pecah belah apalagi printilan pajangan. Saya memilih benda-benda aman yang bisa dia explore dengan bebas. Jadi ruang tamu rumah kami amat minimalis dan lebih terlihat seperti tempat bermain.

Di ruang tengah ada sih meja tv dengan rak di atasnya. Di rak itu saya menyimpan buku-buku, pot hias kecil, pigura foto kecil dan beberapa pajangan plastik. Dan lihat apa yang suka dilakukan olehnya seperti di foto ini.

Dia penasaran sama pot bunga lavender. Dia ambil kursi, naik ke atasnya, trus naik ke meja tv, jalan sambil pegangan rak dan diambilnya pot bunga trus turun. Saya biarkan dia seperti itu tapi dengan pengawasan. Bukan cuma pot bunga ya, dia sering juga ambil buku yang ada di rak cuma karna pengen tau itu buku apa, ada gambar apa di dalamnya. Padahal buku yang ada di rak bukan buku bacaan milik dia. Seneng sih karna berarti motoriknya terlatih. Kalaupun saya larang, yang ada dia marah karna rasa penasarannya tidak terpenuhi. Saya ingat pesan gurunya, anak kinestetik kalo dilarang explorasi sesuai cara dia maka dia cenderung akan jadi stress.

Pernah juga suatu waktu saat dia umur 2 tahun, kami berkunjung ke rumah sepupu di bogor. Teralis jendela rumahnya berbentuk horizontal seperti tangga. Tidak seperti di rumah kami yang berbentuk vertikal. Dia tertarik karna melihat sesuatu yang berbeda. Alhasil dia panjat itu teralis 😆 dengan pengawasan ayah pastinya.

Entah sudah berapa banyak mainan yang sudah tak berbentuk karena dibongkar pasang olehnya. Saking semangatnya bongkar sampe ada yang patah dan gak bisa dipasang lagi. Ini bukan mainan semacam lego gitu ya. Untuk sejenis lego dia bisa bongkar pasang paling banyak 10 keping. Lebih dari itu dia gak sanggup untuk berlama-lama duduk diam.

Hal-hal seperti ini pengaruh banget sama cara dia belajar di sekolah. Kami memilih sekolah semi alam, yang tempat belajarnya berpindah-pindah. Kadang di kelas, di saung bahkan di bawah pohon. Guru-gurunya pun bisa menyesuaikan dengan cara belajar masing-masing anak. Di dalam kelas dia gak akan betah duduk lama. Dia suka bepindah tempat bergerak dan berlari. Kalo orang lihat mungkin mengira dia gak bisa fokus, tapi dia mendengar apa yang disampaikan gurunya. Dia bisa mengulang apa yang disampaikan gurunya. Seiring dengan usianya, perlahan dia mulai bisa duduk tenang sedikit demi sedikit. Meski saat duduk itu pun ada anggota tubuhnya yang tetap bergerak.

Sekarang hal yang masih suka bikin deg-degan adalah saat bertamu ke rumah orang. Ada rumah yang meski di dalamnya ada anak kecil seumuran dengannya tapi terlihat rapi dengan berbagai pajangan menarik. Bisa saya tebak anaknya pasti bukan tipikal kinestetik. Saya was-was saat dia tertarik dengan apa yang ada di rumah itu. Takut kalo barangnya rusak karna dipegang-pegang atau diputar-putar olehnya, takut dia gak bisa duduk anteng yang akhirnya jadi gak enak sama yang punya rumah. Sebenernya dia bisa dikasih tahu pelan-pelan seperti “dilihat aja ya jangan dipegang, itu bukan punyamu, supaya gak rusak, itu cuma untuk pajangan”. Kalo dilarang dengan frontal yang ada dia emosi. Gak bisa dipungkiri bahwa tidak semua orang paham dengan tipikal anak kami ini. Bahkan ada orang yang baru juga barangnya diangkat trus udah langsung ngomong “eh jangan diuplek-uplek yaaa…”. Ya saya paham barang itu mungkin sangat berharga baginya, jadi responnya seperti itu, padahal dia cuma ingin pegang ingin tau itu apa cara kerjanya gimana. Jangankan yang orang dewasa, yang sesama anak kecil aja juga ada yang begitu. Saya gak banyak larang dia untuk mengeskplorasi apa yang ada di dalam rumah dan tempat umum di luar rumah selama itu aman dan dalam pengawasan, tapi jadi repot kalo ke rumah orang 😆.

Untuk urusan main ke rumah teman atau bertamu ke rumah orang ini jadi PR kami untuk sering-sering memberi pengertian padanya. Sebelum berkunjung sudah mewanti-wanti dan bikin perjanjian apa yang boleh dan tidak. Harus dilakukan berulang-ulang supaya tertanam di dirinya bahwa beda rumah beda peraturan dan kita harus menghormati aturan di rumah itu.

Oh iya ada yang bilang bahwa usia anak-anak akan bebas bermain dengan siapapun. Tidak seperti orang dewasa yang cenderung suka bergaul dan nyaman dengan orang yang satu pemikiran atau memiliki kesukaan yang sama atau memiliki kebutuhan yang sama atau minimal nyambung kalo ngobrol. Istilahnya satu frekwensi lah. Tapi karna tipikal belajar yang berbeda-beda ini, saya bisa merasakan dia cuma cocok dengan beberapa teman yang setipe dengannya. Kalo sama teman yang lain ujung-ujungnya jadi berantem bahkan ada yang terang-terangan menjauhi dia. Saya sedih lihatnya, dia juga sedih. Pengen main sama anak itu tapi anak itu malah menjauhi. Yang ada saya cuma bisa beri dia pengertian “kalo dia gak mau ya gak apa sayang, temen kamu yang lain kan banyak, kamu bisa main sama si A”. Kadang dia menjawab “tapi kan aku juga mau main sama si B bu, main sama-sama”, kadang juga dia langsung mengekspresikan sedih dan marahnya dengan melempar apa yang dia pegang atau berlari “menyendiri”. Susah yaaa…. saya gak mungkin juga maksa-maksa anak orang atau ngasih pengertian ke anak orang, dia pasti juga udah punya pemahaman sendiri dari orang tuanya. Di usianya yang hampir 5 tahun ini saya masih harus mengawasi dia saat bermain di luar rumah dengan teman-temannya dan terus memberi pengertian untuk segala situasi yang dia hadapi. Yaa semoga nanti dengan bertambahnya usia dia makin ngerti gimana harus bersikap dan mengontrol diri.

Ada yang anaknya seperti anak saya? Bagi dong ceritanyaaa….. 😊

Advertisements

Minggu Malam Dari Masa ke Masa

Akhir-akhir ini playlist di pc kantor sedang memutar lagu-lagu era akhir 90an sampai awal 2000an. Entah lah mungkin karna jenuh sama lagu-lagu baru yang kebanyakan cuma single jadi saya kembali mencari folder-folder lama.

Mendengarkan lagu jaman dulu alhasil jadi keinget sama jaman- jaman dulu hahahahaha….

Jaman SMA jamannya SO7 lagi hits, sibuknya bukan main, belajar, ikut les ini itu, ikut extrakulikuker sampe badan langsing alias kurus cungkring hehe. Trus setiap minggu malem mulai gak tenang, ngecekin mata pelajaran buat senin selasa, ngecek ada PR apa gak. Klo ternyata ada PR yang belum dikerjakan mulai deh tuh kelimpungan. Idealnya sih kalo hari ini ada PR malamnya langsung dikerjakan, tapi dasar akunya yang sok sibuk jadi ditunda-tunda hahahaha. Dan jaman dulu itu sekolah ada 6 hari senin sampai sabtu, liburnya cuma sehari minggu aja. Berasa kurang liburan ya….. Tapi kayaknya dulu masih bisa hepi ngejalanin. Mungkin karna ikut bimbingan belajar jadi bisa ketemu temen sekolah lain, trus ikut exkul juga jadinya bisa sambil main. 

Jaman kuliah, diracunin pake lagu-lagunya Bryan Adam sama MR. Big. Ini jadi “soundtrack kehidupan” selama 4 tahun hahahahaha…… Jaman kuliah cara belajarnya udah mulai beda. Yang dipelajari pun bahkan gak pernah kepikiran sebelumnya, apa itu pemrograman, basis data, sistem operasi alias sisop dkk. Sumpah ya untuk mata kuliah sisop ini terus terang saya lupa dulu selama satu semester yang dipelajari apaan, saya gak ingat karna dulu ngerasa paling gak paham untuk matkul itu 😅😅.  Enaknya jaman kuliah liburnya ada 2 hari dalam seminggu, sabtu dan minggu. Meski pulangnya kadang lebih malam dibanding jaman SMA tapi dalam sehari jadwal kuliahnya gak padat, disela-selanya bisa disambi dengan kegiatan lain. Yang favorit adalah saat-saat jalan bareng teman angkatan buat ngurusin organisasi, hepi banget dan jadi bisa tau banyak daerah hihihi 😄😄.  Ketika minggu malam tiba, keribetan ngecekin PR gak terlalu kerasa jika dibanding jaman SMA dulu karna tugas biasanya dikerjakan beberapa hari di kampus atau kosan temen sambil nunggu jadwal matkul lain. Minggu malam itu yang dicek cuma besok kuliah jam berapa trus harus berangkat jam berapa 😁.

Nah sekarang eranya Charlie Puth, saya udah kerja dan punya anak, ketika minggu malam tiba yang terlintas adalah “yaaah besok udah senin, berangkat pagian biar gak kena macet, gak bisa main-main sama Taro seharian”. Yaaa sejenis itu lah. Tapiiiii setidaknya saya udah gak pernah mikirin PR hahahahaha, PR nya beda ini lebih ke keluarga. Saat ini saya ada di masa ketika udah jam pulang kantor ya udahan lah kerjanya besok masih bisa dilanjut. Kecuali untuk urusan deployment ya harus tuntas lah hari itu tapi kan sehari selesai besok udah ngurusin yang lain lagi. Yaaa….. Dibuat nikmat lah. Gak mau ngoyo untuk urusan kerjaan, tidak seperti jaman kuliah yang punya target lulus tepat waktu IPK bagus atau jaman SMA yang targetnya masuk IPA lulus bisa dapet kampus negeri 😄😄

Ok, liat playlist lagu selanjutnya ternyata Ed Sheeran – Thinking Out Loud 😍😍

Menyapih & Persiapannya

Ada banyak sekali cerita dan pengalaman yang sudah pernah didengar seputar menyapih. Mulai dari yang pakai drama berminggu-minggu sampai yang mudah sekali hanya dengan kata. Nah berkaca dari banyak pengalaman itu dan melihat karakter si anak, Taro ini tipikal anak yang komunikatif, dia bisa diajak bicara dan kompromi.

Ok, mulai dari rencana dan persiapannya. Saat itu saya ingin taro lepas minum asi saat usia dia 2 tahun, tapi tidak dengan paksaan jika dia belum mau dan bisa. Pertama, saat Taro berusia 22 bulan, hampir setiap malam ketika mau tidur dan saat dia nenen saya ajak dia berbicara sambil menatap mata dan mengelus kepalanya. Yang saya sampaikan intinya adalah bahwa sebentar lagi dia akan berulang tahun, memasuki usia 2 tahun di  mana itu tanda bahwa dia sudah besar, makin pintar dan hebat. Anak yang sudah besar tidak lagi minum susu dari ibu, minumnya susu pakai gelas atau botol dan peluk ibu jika akan tidur. Berulang-ulang saya tanamkan itu sambil mengusap kepala dan memeluknya.

Kedua, saya putuskan untuk berhenti memerah asi saat usia Taro 23 bulan, selain karena emang produksi semakin menipis dan juga sekalian mengurangi intensitas mengosongkan pabrik *ingat prinsip bahwa semakian sering pabrik kosong maka produksi akan makin bertambah*. Jadi saat itu Taro minum asi hanya ketika malam hari, siangnya dia minum susu uht (jangan di tanya kenapa pilih uht).

Ketiga, seminggu sebelum Taro berulang tahun saya coba dia tidur tidak dengan nenen, diganti dengan susu uht botol. Ah iya sehari-hari ketika saya bekerja, Taro minum asi menggunakan botol dot (jangan ditanya pilihan pakai dot ini, nanti jadi panjang hahaha), ya tentu nantinya akan ada masa untuk menyapih dot sebentar lagi. Dia mau dan bisa, meski tengah malam masih kebangun untuk minta nenen. Dan sangat kebetulan, tiga hari menjelang ultahnya saya harus pergi dinas 2 hari semalam. Kesempatan ini saya gunakan untuk pisah sejenak dari taro untuk melatihnya lepas nenen di malam hari.

Seperti biasa, sebelum pergi dinas saya sampaikan ke Taro bahwa saya akan pergi 1,5 hari jadi malam harinya Taro akan tidur dengan ayah dan minum dari susu botol. Minta susu ke ayah ya, begitu kata saya. Nah di sinilah ayah Taro berperan besar. Seperti dugaan saya, tengah malam dia terbangun mencari ibu, minta keluar kamar di ruang tengah. Dengan sabar ayah menjelaskan dan menunggu Taro sampai dia tertidur lagi, sepertinya saat itu salah satu malam yang agak berat buat ayah. Sejak jam 8 malam sampai pagi saya memWA ayah gak dibaca juga saking sibuknya dia mengasuh Taro hehehe. Terima kasih ayah hebat, i love you 😙😙.

image

Dan sejak saya kembali pulang tepatnya H-1 ultah Taro, resmi sudah menyapihnya. Memeluk dan mengusap rambutnya menjadi salah satu rutinitas kami sebelum tidur. Sudah jarang sekali dia terbangun tengah malam kecuali jika kehausan. Taro anak yang sangat pengertian dan suka menuntut penjelasan, saya sangat bersyukur akan hal ini. Terima kasih ya anak ibu sayang 😙😙.

Kode

Dug dug.. dug dug.. dug dug..
Degub jantung ini terasa lebih nyaring dari biasa
Setiap kamu mulai menyapa, di gtalk, di whatsapp
Mungkin sapa mu basa basi
Tapi terasa beda, seolah lama tak pernah merasa

Terus saja kupandang paras di foto itu
Di setiap halaman google kucari nama dan ceritamu
Berharap bisa kutahu lebih tentangmu
Terus saja kuulang ingatan saat bersama
Sambil kuperhatikan bahasa tubuhmu
Mencoba mencari tahu maksud dan langkahmu

Waktu berlalu…
Namun seolah berjalan lambat
Stuck, jalan di tempat, tak ada progress
Aku perempuan biasa yg tak pandai mengkode tapi ya lumayan untuk urusan koding
Tak mungkin lah untuk ku melangkah lebih dulu

Atau ku salah artikan ini…?

*sebuah fiksi*

Pencapaian

1 oktober, hari ini, diawali dengan berangkat lebih pagi karna harus menghadiri upacara peringatan kesaktian pancasila di kantor. Ya udah lah hadiri aja setelah punya anak sih seringnya males klo disuruh ikut upacara toh sekalian ngurus beberapa keperluan di bank sama suami. Abis upacara, sarapan di benhil trus cuss ngurus yang udah jadi niatan.

Lokasi bank yang terakhir ada di perempatan karet, urusan selesai pas jam 12 siang, matahari tepat di atas kepala tuh. Balik ke kantor ragunan pake kopaja ac, tapi berhubung halte karet udah geser posisi (karna pembangunan MRT) dan gak bawa emoney buat naik dari halte transjak diputuskan untuk jalan kaki aja ke atmajaya. Kenapa atmajaya? Karna kopaja ac nya belok lewat situ dimana pas belok dia keluar dari jalur transjak, jadinya bisa naik dari pinggir jalan.

Jalan kaki dari perempatan karet ke atmajaya, sambil pegang minuman dingin, sambil sesekali diminum. Haus ih abis nyelesaikan banyak urusan. Saat jalan tadi, tiba-tiba ngerasa dejavu, familiar sama rasa saat itu. Iya bener…. keinget saat-saat ngekos di setiabudi dulu. Ke mana-mana jalan kaki, ngangkot, ngetransjak, ngekopaja, ngemetromini, sepedaan juga.

Berjalan di keramaian trotoar sudirman/thamrin yang serba cepat. Menjelajahi jalanan ibukota dengan transjak. Bersepeda saat weekend. Berkawan dengan teman-teman kosan, ngobrol di ruang tv, nonton midnight di setiabudi building dengan jalan kaki (deket banget dari kosan). Bekerja di perusahaan bumn dengan perjuangan yang panjang untuk bisa mendapatkannya. Berkenalan dengan banyak teman baru. Pergi ke tempat-tempat yang dulunya cuma bisa liat di tv. Wow…

Jakarta, kerja di bilangan sudirman, ngekos di bilangan setiabudi. Seperti mimpi dan gak nyangka bisa kesampaian. Jakarta, sebuah pencapaian. Pencapaian seorang yang baru lulus kuliah saat itu. Tekat dan cita-cita untuk sebuah pembuktian. Karna suatu kejadian thx to masa lalu sampe diri ini ngerasa harus buat pembuktian hahahahaha….

Setiap orang pasti punya pencapaiannya masing-masing. Dan akhir dari sebuah pencapaian adalah awal dari pencapaian yang baru. Dari mulai harus lulus kuliah tepat waktu, sebuah pembuktian, tantangan pekerjaan, punya calon pendamping hidup, menikah, punya rumah sendiri (yang mana didapat dengan perjuangan berdua) dan seterusnya. Terus aja gitu gak ada habisnya, itulah yang membuat kita hidup, sampai kita kembali ke Sang Pencipta dan berada di pencapaian tertinggi. ☺

Otak Sapi Bumbu Padang

Kali pertama tau yang namanya masakan otak sapi ya dari RM. Padang, mama yang menyodorkan menu itu waktu aku kecil dulu. Trus di rumah beberapa kali mama pernah juga bikin masakan dari otak sapi, kalo gak digoreng ya dibumbu padang. Tetep lah bumbu padang ini juaranya hahaha….

Kebetulan pas qurban kemarin dapet jatah otak sapi, gak apa lah ya belum tentu setahun sekali makan otak sapi. Trus langsung deh telpon mama tanya bumbunya apa dan cara masaknya gimana karna aku bisanya cuma yang digoreng hehe. Ah iya sebelum dimasak cuci dulu otak sampai bersih, lalu kukus otak dengan diletakkan di dalam wadah tahan panas. Setelah itu baru otak siap diolah.

Bahan:
1/2 bagian otak sapi dipotong sesuai selera
1 buah tahu sutra besar dipotong 8 bagian
*nah tahu untuk dimakan yg tua, otak untuk dimakan yang muda*

Bumbu dihaluskan:
8 siung bawang merah
4 siung bawang putih
1 ruas jari kunyit
1 ruas jari jahe
2 cabe merah besar
1/2 sdt ketumbar
4 biji kemiri

Bumbu tambahan:
2 lbr daun jeruk buang tulang tengah
1 lbr daun kunyit diiris tipis-tipis
2 batang serai
Minyak goreng utk menumis
1 gelas air
65 ml santan kental
1 sdm Gula
1 sdt Garam

Cara memasak:
Panaskan minyak, tumis bumbu yang dihaluskan, daun jeruk, daun kunyit dan serai hingga wangi dan warnanya sedikit tua. Beri air lalu masukkan tahu gula dan garam,  tutup sebentar hingga tahu matang. Setelah itu masukkan otak sapi dan santan, masak dengan api kecil agar santan tidak pecah. Setelah semua matang koreksi rasa dan siap dihidangkan.

image

Alhamdulillah kata pak suami enak :):):)

Klo ditanya beli daun kunyit di mana? Nah aku gak tau deh gimana jawabnya karna tinggal petik di samping rumah, mama dulu yg tanam. Di tukang sayur daerah sini pun gak ada yang jual. Kunci dari bumbu padang ini ya si daun kunyit, klo gak ada daun kunyit rasanya bakalan lain. Selamat mencoba, otak bisa diganti dengan yang lain misalnya cumi atau ikan 😉

Asi Addict

Mungkin judulnya sedikit lebay tapi sedikit bisa menggambarkan taro. Sampai sekarang di usianya yang sudah masuk 16 bulan lebih beberapa hari, taro masih bisa ngabisin 3 botol asi (ukuran 100ml) selama ibunya pergi ke kantor. Pun ketika ibunya sampe rumah, setelah adzan maghrib dia udah merajuk minta nenen, tarik-tarik baju, peluk-peluk. Tengah malem pun minimal kebangun 2x buat nenen.

Taro bukan tipikal anak yang makan nasi banyak, ya secukupnya dan semaunya dia. Tapi dia doyan banget ngemil dan makan buah. Ini nurun ayah ibu banget nih doyan ngemil hihihihi. Dan taro pun sama seperti anak kebanyakan, kadang susah makan kadang doyan banget makan. Banyak tetangga dan kerabat yang amazed liat taro yang badannya sekel berisi (hmmm tapi sekarang udah gak segendut dulu sih, mungkin karna udah banyak aktifitas). Taro sering disangka minum susu formula dan makannya banyak. Ya padahal sih dia sama aja seperti anak kebanyakan yang minum asi juga.

Suatu ketika saat vaksin bulan lalu kupertanyakan ke dokter taro kenapa berat badan taro ada di atas rata-rata anak seusianya padahal soal makan nasi porsinya biasa aja. Bu dokter langsung menjawab “ya dari asi ibu”. Kalo dipikir-pikir mungkin ada benarnya, porsi minum asi taro selama tanpa aku di rumah lebih banyak dari anak seusianya yang minum asi juga. Perbandingan ini setelah kutanya ke beberapa teman.

imageYang jadi persoalan sekarang adalah, asi yang kubawa pulang hasil memompa di kantor udah berkurang jadi dua botol T_T. Sudah beberapa hari ini begini terus, sedih rasanya. Padahal wiken kemarin abis ditraktir ayah makan kepiting asam manis cak gundul trus kemarin di kantor makan bebek goreng slamet. Nah itu kan makanan yang menurutku enak smua, bisa banget jadi asi booster. Tapi tetep aja hasilnya cuma dua botol. Temen-temen di kantor mencoba menghibur, kata mereka toh taro udah makin besar.

Cadangan asi masih ada sekitar 60an botol sih, cuma kalo 5 hari kerja selalu ambil cadangan 1 botol perhari berarti cadangan itu akan habis dalam waktu sekitar 3 bulan lagi dimana nanti usia taro 19 bulan. Nah kan, masih jauh ke usia 24 bulan hiiiksss. Hari ini aku bilang ke mbak yanti (pengasuh taro) untuk ngasih taro asi 2 botol aja ketika dia mau tidur. Selama ini sih udah begitu dan yang ketiga biasanya setelah makan sore sambil nunggu ibunya pulang. Berarti hari ini nanti taro akan menunggu ibu untuk minum asi yang ketiga, duh yang sabar ya sayang. Sebenernya ya, kalo kata dokter taro jangan batasi asi, selama dia minta ya kasih aja. Tapi kan dok hasil perahan saya sekarang ini jadi segitu….. T_T

Ada beberapa opsi ketika nanti asi ini udah gak lagi mencukupi permintaan taro sampe 24 bulan. Pertama banyakin makan ato ngemilnya dan yang kedua ditambah pake susu sapi. Ya opsi yang kedua ini sih nantinya juga bakal jadi opsi pasti ketika taro mulai disapih tapi masih minta susu.

Ok lets see ya taro, i just wanna give you my best :*

Previous Older Entries